PAMERAN PENDIDIKAN PGSD WATES

“Peserta ber-TOEFL tinggi belum tentu baik dalam speaking, karena dalam berbahasa Inggris yang paling sulit adalah speaking sebab langsung praktek dengan orang asing. Oleh karena itu, belajarlah bahasa Inggris sejak masuk kuliah dan mencari jam terbang yang tinggi dalam menguasainya.” Demikian dikatakan Safitri Yosita, M.Ed., M.Pd. dalam pameran pendidikan dan talkshow di kampus UNY Wates, Selasa, 17 November 2015.

Lebih lanjut dosen PGSD FIP UNY tersebut memaparkan kurikulum yang berlaku di Eropa dan Australia sekaligus pengalamannya dalam menempuh studi di sana. “Tidak usah malu untuk bekerja part time di negara lain,” kata Yosita, “karena dengan bekerja part time kalian akan mendapat uang tambahan.” Menurutnya, mahasiswa juga harus bisa memasak sendiri karena jauh lebih murah daripada makan di kantin kampus. Pameran bertajuk "A Half day Turn Around The World" tersebut dibuka oleh Wakil Bidang II Kampus Wates Dapan, M.Pd dengan pengguntingan pita dilanjutkan peninjauan stand.

Dosen pembimbing PGSD Unik Ambarwati, M.Pd. menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mata kuliah pengembangan kurikulum yang diajarkan di Prodi PGSD. “Mata kuliah ini mempelajari tentang kurikulum di negara lain,” kata Unik. Dari hasil diskusi dengan para mahasiswa dicetuskanlah ide untuk menyelenggarakan pameran sekaligus belajar kurikulum dari negara lain. Dalam pameran ini para mahasiswa PGSD Wates menampilkan stand dari New Zealand, Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Singapura, Mesir, Kanada, dan Finlandia.

Salah satu peserta pameran, Ari Fitriyanto mengatakan bahwa di Mesir sistem pendidikan formal terbagi atas struktur sekuler dan struktur keagamaan, dan sistem persekolahannya menggunakan bahasa asing dan bahasa Arab sebagai pengantar. Sementara penjaga stand Kanada, Yessy Feriana mengatakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Kanada mencakup bidang matematika, sains, bahasa dan ilmu sosial seperti sejarah dan geografi. “Kurikulum sekarang memasukkan komputer, berpikir kreatif, belajar mandiri dan pendidikan lingkungan,” tambah Yessy.

Argi Sofyan dari Prodi PGSD angkatan 2012 menyambut baik adanya pameran pendidikan seperti ini. “Dengan adanya pameran ini mahasiswa bisa tahu kebudayaan berbagai negara yang belum terekspos,” kata Argi, “bahkan kami juga bisa belajar tentang kurikulum dari masing-masing negara.” Bahkan Ratih Kurniasari, mahasiswa PGSD 2012 mengusulkan agar kegiatan ini diadakan pada tiap semester. “Selain mahasiswa juga alangkah baiknya bila mengundang siswa sekolah di sekitar kampus UNY Wates,” tutupnya. (dedy)