PLB Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Berkegiatan di Luar Kampus (DLK). Mengusung tema "Penguatan Dukungan Lingkungan Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Sosial Siswa dengan Developmental Disabilities", kegiatan ini diselenggarakan secara luring pada 30 Juli 2026 dan diikuti oleh guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan PkM dipimpin oleh Dr. Sukinah, M.Pd. sebagai ketua tim, dengan anggota Prof. Dr. Mumpuni, M.Pd., Diajeng Tyas Pinru Phytanza, M.Pd., dan Veroyunita Umar, M.Pd. Pelaksanaan program juga melibatkan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) FIP UNY sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian yang mengintegrasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Program ini dilaksanakan sebagai respons terhadap hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa banyak siswa dengan developmental disabilities (DD) masih mengalami hambatan dalam kemampuan komunikasi sosial. Hambatan tersebut berpengaruh terhadap keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, interaksi dengan teman sebaya, maupun pengembangan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, lingkungan pembelajaran di sejumlah SLB masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan media visual dan alat bantu komunikasi, belum tersedianya panduan praktis bagi guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang komunikatif, serta belum optimalnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung perkembangan komunikasi sosial peserta didik.
Ketua tim PkM, Dr. Sukinah, M.Pd., menjelaskan bahwa komunikasi sosial merupakan salah satu keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini pada siswa dengan developmental disabilities.
"Keberhasilan pembelajaran anak dengan developmental disabilities tidak hanya ditentukan oleh metode mengajar, tetapi juga oleh lingkungan belajar yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, terstruktur, dan kaya akan kesempatan berkomunikasi. Ketika lingkungan belajar mendukung, anak akan lebih mudah berinteraksi, berpartisipasi, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya," ungkap Dr. Sukinah.
Melalui kegiatan ini, tim PkM memberikan pelatihan kepada guru mengenai strategi penguatan dukungan lingkungan pembelajaran berbasis komunikasi sosial. Materi yang disampaikan mencakup konsep komunikasi sosial pada anak dengan developmental disabilities, penataan lingkungan fisik kelas yang komunikatif, penggunaan media visual, penyusunan alat bantu komunikasi sosial kontekstual, pengembangan jadwal visual (visual schedule), visual cue, communication board, social story, serta berbagai strategi sederhana yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti sesi diskusi, studi kasus, simulasi pembelajaran, serta praktik penyusunan rancangan dukungan lingkungan pembelajaran sesuai karakteristik siswa di sekolah masing-masing. Seluruh kegiatan dirancang secara partisipatif sehingga guru dapat berbagi pengalaman, mendiskusikan permasalahan yang dihadapi di kelas, sekaligus memperoleh solusi yang aplikatif berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi selama pelatihan. Guru-guru aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam mendampingi siswa dengan developmental disabilities, mulai dari kesulitan membangun komunikasi dua arah, meningkatkan interaksi sosial antar siswa, hingga menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kenyamanan belajar peserta didik.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, kegiatan ini akan dilanjutkan melalui pendampingan implementasi di sekolah. Tim PkM akan mendampingi guru dalam mengembangkan berbagai produk dukungan lingkungan pembelajaran yang dapat digunakan secara langsung di kelas. Produk yang dikembangkan meliputi media visual pembelajaran, alat bantu komunikasi sosial, pengaturan area belajar yang mendukung regulasi perilaku, serta berbagai perangkat pembelajaran yang dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, komunikatif, dan ramah bagi siswa dengan developmental disabilities.
Menurut tim pelaksana, pendampingan menjadi bagian penting agar hasil pelatihan tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan praktik pembelajaran di sekolah. Dengan adanya pendampingan, guru memperoleh kesempatan untuk mengimplementasikan strategi yang telah dipelajari sekaligus mendapatkan umpan balik dalam proses pengembangannya.
Program ini diharapkan menghasilkan beberapa luaran penting, yaitu meningkatnya kompetensi guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung komunikasi sosial, meningkatnya partisipasi siswa dalam kegiatan belajar, berkembangnya kualitas interaksi sosial siswa di kelas, serta tersusunnya panduan best practice penguatan dukungan lingkungan pembelajaran yang dapat direplikasi oleh sekolah lain.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan kompetensi calon pendidik khusus. Melalui pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami kebutuhan nyata sekolah, mengembangkan kemampuan kolaborasi dengan guru, serta mengimplementasikan pengetahuan akademik dalam konteks pelayanan kepada masyarakat.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, guru, mahasiswa, dan keluarga, Fakultas Ilmu Pendidikan UNY berharap program ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan khusus dan pendidikan inklusif di Indonesia. Lingkungan pembelajaran yang komunikatif, suportif, dan nyaman diharapkan mampu menjadi fondasi penting bagi berkembangnya kemampuan komunikasi sosial siswa dengan developmental disabilities sehingga mereka dapat berpartisipasi secara lebih optimal dalam proses belajar maupun kehidupan bermasyarakat.