Pusat Unggulan IPTEKS Kajian Ilmu Pendidikan (PUI KIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Festival Indigenous Knowledge for National Sustainability (INSAN) Jogja Anti-Bullying sebagai bagian dari program In-Saintek SEMESTA 2026. Kegiatan yang mengangkat tema “Merawat Anak Bangsa: Perspektif Kebijakan, Inklusi Disabilitas, dan Pengalaman Internasional dalam Pencegahan Bullying” ini berlangsung di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta, Selasa (29/9).
Festival tersebut menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, praktisi pendidikan, komunitas, serta peserta didik untuk memperkuat upaya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan. Sebanyak 40 sekolah di wilayah Yogyakarta turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketua PUI KIP UNY, Dr. Ariefa Efianingrum, M.Si., menuturkan bahwa perundungan di lingkungan pendidikan tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Menurutnya, praktik perundungan dapat berlangsung secara berulang dan berpotensi mengalami reproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya apabila tidak ditangani secara sistematis.
“Kasus perundungan sering kali terjadi berulang dan berkaitan dengan reproduksi bullying dari generasi ke generasi. Karena itu, rantai perundungan perlu diputus melalui pendekatan yang tidak hanya bersifat represif, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kearifan lokal”.
Pendekatan berbasis kearifan lokal dinilai penting karena nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dapat menjadi sumber pembentukan karakter, relasi sosial yang sehat, serta budaya saling menghargai di lingkungan pendidikan. Dalam konteks tersebut, sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan budaya yang aman, inklusif, dan berkeadaban.
Dukungan terhadap upaya pencegahan perundungan juga disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, S.E., M.Si. Ia menyampaikan bahwa implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) dapat menjadi salah satu pendekatan dalam mencegah bullying dan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Aris Winarna, S.E., M.M., menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman dari perundungan. Menurutnya, pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan akademisi, pemerintah daerah, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kemdiktisaintek turut memberikan dukungan pendanaan dan program agar kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan stakeholder terkait terus berjalan,”.
Menghadirkan Perspektif Nasional dan Internasional
Festival INSAN Jogja Anti-Bullying menghadirkan tiga narasumber yang merepresentasikan perspektif internasional, kebijakan perlindungan anak, serta pengembangan pendidikan inklusif dan rehabilitasi berbasis masyarakat.
Narasumber internasional dalam kegiatan tersebut adalah Ma. Claire M. Guevara, MAEd, Principal, Elementary School Department, José Rizal University Mandaluyong, Metro Manila, Filipina. Kehadirannya memberikan perspektif pengalaman internasional dalam upaya pencegahan dan penanganan perundungan di lingkungan sekolah.
Dari perspektif perlindungan anak, kegiatan menghadirkan Dr. Diyah Puspitarini, M.Pd., Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sekaligus Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Sementara itu, perspektif mengenai inklusi disabilitas dan pengembangan layanan berbasis masyarakat disampaikan oleh Sunarman Sukamto, Direktur Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM).
Kehadiran ketiga narasumber tersebut memperkaya diskusi mengenai pencegahan bullying dengan mempertemukan pengalaman internasional, kebijakan perlindungan anak, serta perspektif inklusi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, pencegahan perundungan ditempatkan sebagai agenda bersama yang memerlukan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan.
Melibatkan Peserta Didik melalui Lomba Poster Anti-Bullying
Selain forum diskusi, Festival INSAN Jogja Anti-Bullying juga menjadi ruang partisipasi peserta didik melalui Lomba Poster Anti-Bullying yang diselenggarakan oleh PUI KIP UNY. Kegiatan ini diarahkan untuk mendorong kreativitas siswa sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dari perundungan.
Pada rangkaian festival, diumumkan para pemenang Lomba Poster Anti-Bullying. Adapun hasil perlombaan adalah sebagai berikut:
Juara 1: Damia Aqilah Arrad — SMP Muhammadiyah 3 Waru Sidoarjo dengan judul: BERSAMA HANCURKAN TEMBOK KETAKUTAN, Melawan Perundungan dengan Keberanian
Juara 2: Hafidza Naailah Asmara — SMPIT Abu Bakar Veteran dengan judul: KALIAN YANG MEMBUAT RUMOR MEREKA YANG MENANGGUNG KONSEKUENSI
Juara 3: Graciela Naomi Christabel Siagian — Peachblossoms High School dengan judul: Your Words Matter
Juara Harapan 1: Alfathan Rayyan Ariefaldan — SMPN 1 Gedangan dengan judul: DAMPAK BULLYING: Kenali Dampaknya, Cegah dan Hentikan Tindakannya
Juara Harapan 2: Adelin Kwek — SMPS Methodist-2 Kisaran dengan judul: Suarakan Bebas Bullying
Juara Harapan 3: Rafael Enrico Feliciano — SMP Stella Duce 1 Yogyakarta dengan judul: Stop Bullying "kata-Katamu Bisa Menyakiti Hatinya
Keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan bullying tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan dan program kelembagaan. Peserta didik perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari proses membangun budaya sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghargai.
Melalui Festival INSAN Jogja Anti-Bullying, PUI KIP UNY mendorong penguatan sinergi antara pengetahuan akademik, kebijakan publik, kearifan lokal, pengalaman internasional, serta partisipasi masyarakat dan peserta didik. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat langkah konkret dalam mencegah perundungan sekaligus memutus rantai reproduksi kekerasan di lingkungan pendidikan.
Festival ini sekaligus menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan kontribusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan pendidikan dan sosial. Melalui penguatan ekosistem pendidikan yang aman dan inklusif, upaya merawat anak bangsa dapat dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
Rekaman dapat di lihat di FIP UNY OFFICIAL. Karya pemenang LOMBA POSTER ANTI-BULLYING