Permasalahan pendidikan anak saat ini tidak hanya berkaitan dengan proses belajar di sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi keluarga, lingkungan sosial, serta perkembangan teknologi. Kondisi tersebut menjadi topik diskusi dalam kegiatan bersama ibu-ibu PKK Dasawisma 8 Dusun Mojohuro yang dilaksanakan pada Kamis (15/5/2026) di rumah Ibu Ilus, RT 03.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Deni Setiawan dari Prodi Kebijakan Pendidikan sebagai bagian dari program kerja individu PLK UNY-Mengabdi (Pembelajaran Luar Kampus). Diskusi dilakukan untuk menggali berbagai hambatan pendidikan anak yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Bu Dukuh menyampaikan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan yang nyaman bagi anak. Menurutnya, anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat di rumah sehingga orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung pendidikan dan perkembangan anak.
Pembahasan dalam diskusi banyak menyoroti tantangan orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah. Sebagian peserta menyampaikan bahwa materi pelajaran saat ini dinilai berbeda dengan pembelajaran pada masa dahulu sehingga orang tua sering merasa kesulitan saat membantu anak belajar.
Selain itu, penggunaan HP pada anak juga menjadi perhatian dalam diskusi. Anak-anak dinilai lebih sering menggunakan gadget untuk hiburan seperti bermain game, menonton YouTube, dan media sosial dibanding untuk belajar. Meski demikian, perkembangan teknologi juga dirasakan membantu orang tua dalam mencari informasi dan memahami materi pelajaran melalui internet.
Diskusi juga membahas perubahan kebiasaan belajar anak. Beberapa peserta menyampaikan bahwa anak lebih mudah memahami pelajaran ketika belajar bersama teman-teman dengan pendampingan tentor dibanding belajar sendiri di rumah. Aktivitas sekolah hingga sore hari yang dilanjutkan kegiatan TPA juga membuat sebagian anak merasa lelah ketika harus belajar kembali pada malam hari.
Selain persoalan belajar, peserta diskusi juga menyoroti lingkungan pergaulan anak yang dinilai semakin perlu mendapatkan perhatian. Pengaruh teman sebaya dan maraknya geng remaja dianggap cukup memengaruhi perilaku anak sehingga pengawasan keluarga dinilai menjadi hal yang penting.
Dalam diskusi juga muncul pandangan bahwa sebagian anak setelah lulus sekolah lebih tertarik untuk bekerja dan merantau dibanding melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Keinginan untuk segera memperoleh penghasilan menjadi salah satu alasan yang disampaikan dalam diskusi.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan masyarakat. Melalui diskusi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya dukungan bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan anak.