Keterbatasan pendengaran sering kali dianggap sebagai tembok besar dalam mempelajari Al-Qur’an yang selama ini identik dengan metode auditif (pendengaran) dan pelafalan lisan. Namun, persepsi tersebut berhasil dipatahkan melalui sebuah karya inovatif dari pakar Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Sebuah buku berjudul “Mengaji dalam Sunyi: Metode Mengaji Bagi Anak dengan Hambatan Pendengaran” hadir sebagai solusi konkret bagi pendidikan agama yang inklusif. Buku monumental ini lahir dari pemikiran kolaboratif para akademisi berdedikasi, yakni Dr. Bayu Pamungkas, M.Pd. (Dosen PLB FIP UNY), bersama Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., Prof. Dr. Suwarjo, M.Si., dan Abu Kahfi.
Penulisan buku ini didasari oleh kesadaran bahwa anak dengan hambatan pendengaran memiliki hak spiritual yang sama untuk berinteraksi dengan kitab suci. Bayu Pamungkas dan tim merumuskan pendekatan yang lebih adaptif, menggeser paradigma "mendengar dan mengeja" menjadi "melihat dan bergerak".
"Anak dengan hambatan pendengaran memiliki kekuatan luar biasa pada modalitas visual dan kinestetik. Inilah yang kami optimalkan melalui bahasa isyarat sebagai media utama," ungkap tim penulis dalam narasinya.
Berbeda dengan metode konvensional, buku ini tidak menuntut peserta didik untuk melafalkan ayat secara verbal. Sebaliknya, proses membaca dilakukan melalui representasi huruf hijaiyah dan kata dalam bentuk sistem bahasa isyarat yang terstruktur. Hal ini memungkinkan anak memahami struktur bacaan Al-Qur’an secara visual dan bermakna.
Buku ini dirancang tidak hanya sebagai teks konseptual, tetapi juga sebagai panduan praktis (manual book). Di dalamnya terdapat:
Metodologi Pembelajaran: Langkah-langkah sistematis mengenalkan huruf hijaiyah melalui isyarat.
Contoh Penerapan: Panduan teknis bagi guru dan orang tua dalam mendampingi anak di sekolah maupun di rumah.
Pendekatan Psikologis: Memahami karakteristik belajar anak disabilitas rungu agar proses belajar mengaji menjadi menyenangkan dan tidak membebani.
Kehadiran karya ini semakin memperkuat posisi Departemen Pendidikan Luar Biasa FIP UNY sebagai garda terdepan dalam pengembangan keilmuan disabilitas di Indonesia. Buku ini menjadi bukti nyata kontribusi dosen FIP UNY dalam menciptakan aksesibilitas pendidikan yang melampaui batas fisik.
"Buku ini adalah ikhtiar untuk membuka ruang pembelajaran Al-Qur’an yang lebih ramah bagi semua kalangan. Keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan kitab suci," tambah Bayu Pamungkas.
Karya ini ditutup dengan sebuah pesan reflektif yang menyentuh bagi pembaca umum. Jika mereka yang hidup dalam "sunyi" tetap berjuang dengan teguh untuk mempelajari Al-Qur’an melalui isyarat dan gerakan, maka sudah sepatutnya hal ini menjadi tamparan positif bagi mereka yang memiliki indra sempurna namun masih enggan mempelajari kitab-Nya.
Melalui buku "Mengaji dalam Sunyi", FIP UNY mengajak masyarakat luas untuk kembali melihat bahwa di tangan pendidik yang tepat, setiap anak—dengan segala keistimewaannya—mampu bersinar dengan caranya sendiri.
Penulis: Dr. Bayu Pamungkas, M.Pd.
