Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (FIP UNY) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan hasil penelitian melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berbasis Hasil Riset yang memberikan dampak langsung bagi peningkatan kualitas layanan pendidikan khusus di Indonesia. Melalui kemitraan dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Barat, tim PkM PLB FIP UNY menyelenggarakan Workshop II Diseminasi Model Pembelajaran Humanistik Berbasis Person-Centered untuk Penguatan Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Peserta Didik Autism Spectrum Disorder (ASD) di Sekolah Luar Biasa.
Kegiatan yang dilaksanakan di SLB Negeri 2 Mataram ini merupakan bagian dari implementasi hasil riset dosen Program Studi PLB FIP UNY yang bertujuan menjembatani kesenjangan antara hasil penelitian di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata guru di lapangan. Sasaran kegiatan adalah guru-guru SLB yang menangani peserta didik Autism Spectrum Disorder (ASD), dengan harapan mereka mampu menyusun program pembelajaran yang benar-benar berpusat pada karakteristik dan kebutuhan individual setiap peserta didik.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat dipimpin oleh Dr. Sukinah, M.Pd. sebagai Ketua Tim, dengan anggota Prof. Dr. Mumpuniarti, M.Pd., Diajeng Tyas Pinru Phytanza, M.Pd., dan Zykra Zakiah, M.Pd. Kegiatan ini juga melibatkan lima mahasiswa Program Studi PLB jenjang Sarjana (S1) Kemal, Nazwa, Magister (S2) kenanga, Khairil, dan Doktor (S3) Dewi barorutaqiyah, M.Pd sebagai bentuk kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat berbasis hasil penelitian.
Workshop II merupakan kelanjutan dari Workshop I yang telah dilaksanakan secara daring pada 19 Juni 2026. Pada tahap awal tersebut, para guru memperoleh penguatan konsep mengenai filosofi, prinsip, dan implementasi Model Pembelajaran Humanistik Berbasis Person-Centered. Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Selama kurang lebih satu bulan setelah Workshop I, para guru diberikan tugas untuk mengimplementasikan konsep yang diperoleh di sekolah masing-masing dengan menyusun profil belajar peserta didik ASD, melakukan identifikasi kekuatan dan hambatan belajar, menyusun hasil asesmen, serta memetakan kebutuhan belajar berdasarkan kondisi nyata peserta didik yang mereka dampingi.

Proses tersebut menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar peserta. Melalui pendampingan daring yang dilakukan oleh tim PkM selama satu bulan, guru-guru mulai menyadari bahwa setiap peserta didik Autism Spectrum Disorder memiliki karakteristik, potensi, minat, dan kebutuhan belajar yang sangat berbeda. Kesadaran ini menjadi dasar penting bahwa pembelajaran bagi peserta didik ASD tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam, melainkan harus disusun secara individual berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen yang komprehensif.
Workshop II kemudian menjadi ruang refleksi sekaligus forum akademik untuk mengkaji kembali hasil kerja guru selama satu bulan terakhir. Sebanyak 50 guru perwakilan dari seluruh SLB di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan masing-masing sekolah mengirimkan dua orang guru, mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Hampir seluruh peserta datang membawa dokumen profil belajar peserta didik, hasil asesmen, serta rancangan awal program pembelajaran yang kemudian didiskusikan bersama tim pendamping.
Suasana workshop berlangsung sangat interaktif. Berbeda dengan pelatihan yang umumnya hanya berisi penyampaian materi, kegiatan ini lebih banyak diisi dengan diskusi, refleksi, analisis kasus, dan pendampingan individual. Guru-guru diberi kesempatan untuk mempresentasikan kondisi nyata peserta didik ASD yang mereka dampingi di sekolah masing-masing, kemudian bersama-sama mencari solusi pembelajaran yang paling sesuai.
Salah satu isu yang paling banyak muncul dalam diskusi adalah bagaimana menghubungkan tuntutan kurikulum dengan profil belajar peserta didik ASD yang sangat beragam. Banyak guru mengungkapkan bahwa selama ini mereka sering mengalami kesulitan dalam menentukan target pembelajaran karena kemampuan peserta didik sangat bervariasi, sementara kurikulum tetap menuntut capaian tertentu. Tidak sedikit guru yang merasa kebingungan ketika harus menerjemahkan hasil asesmen menjadi program pembelajaran yang dapat dilaksanakan di kelas.
Melalui Model Pembelajaran Humanistik Berbasis Person-Centered, tim PkM mengajak guru mengubah cara pandang terhadap peserta didik. Guru tidak lagi memulai penyusunan pembelajaran dari materi atau kurikulum, tetapi dari pemahaman yang utuh mengenai peserta didik. Profil belajar menjadi titik awal dalam merancang tujuan pembelajaran, strategi, media, bentuk pendampingan, hingga asesmen yang sesuai dengan karakteristik individu. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi berorientasi pada keterbatasan anak, melainkan pada kekuatan, potensi, minat, dan kebutuhan belajarnya.
Sesi yang paling mendapat perhatian peserta adalah sharing session, di mana guru-guru dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat secara terbuka berbagi pengalaman selama mendampingi peserta didik ASD. Berbagai persoalan muncul dalam diskusi, mulai dari keberagaman karakteristik anak ASD, tantangan dalam mengembangkan komunikasi dan interaksi sosial, kesulitan mengelola perilaku, keterbatasan sumber daya sekolah, hingga kebingungan dalam melakukan adaptasi kurikulum agar tetap relevan dengan kemampuan peserta didik.
Menariknya, forum ini tidak berhenti pada penyampaian permasalahan. Tim PkM bersama seluruh peserta melakukan analisis terhadap setiap studi kasus yang disampaikan. Melalui diskusi kolaboratif, guru diajak mengidentifikasi kekuatan peserta didik, menganalisis hambatan belajar, menentukan kebutuhan prioritas, kemudian menyusun alternatif program pembelajaran yang dapat langsung diterapkan di sekolah. Pendekatan ini membuat guru tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga menghasilkan produk nyata berupa rancangan program pembelajaran yang siap diimplementasikan.
Menurut Dr. Sukinah, M.Pd., keberhasilan layanan pendidikan bagi peserta didik Autism Spectrum Disorder sangat ditentukan oleh kemampuan guru memahami peserta didik sebelum menentukan strategi pembelajaran. Beliau menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda, sehingga pembelajaran harus dimulai dari mengenali siapa anak tersebut, apa kekuatannya, bagaimana cara belajarnya, dan dukungan apa yang dibutuhkannya. Oleh karena itu, model pembelajaran humanistik berbasis person-centered menempatkan peserta didik sebagai pusat dalam seluruh proses pembelajaran.
Lebih dari sekadar kegiatan pelatihan, program ini juga menjadi wahana kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, mahasiswa, dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya evidence-based practice, yaitu praktik pembelajaran yang didasarkan pada hasil penelitian sekaligus pengalaman nyata guru di lapangan. Dengan demikian, hasil riset yang dikembangkan di Program Studi PLB FIP UNY tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi benar-benar memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Di akhir kegiatan, para peserta menyampaikan bahwa pendampingan yang diberikan selama Workshop II sangat membantu mereka dalam memahami keterkaitan antara hasil asesmen, penyusunan profil belajar, serta pengembangan program pembelajaran individual bagi peserta didik ASD. Meskipun demikian, mereka juga menyadari bahwa perubahan praktik pembelajaran membutuhkan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kali pelatihan.
Sebagai tindak lanjut, Tim PkM PLB FIP UNY bersama MKKS SLB Provinsi Nusa Tenggara Barat telah menyepakati untuk melaksanakan pendampingan implementasi program di sekolah masing-masing pada bulan Agustus 2026. Pada tahap ini, tim akan melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program yang telah disusun guru, mengevaluasi efektivitas implementasinya, sekaligus memberikan umpan balik untuk penyempurnaan layanan pembelajaran. Pendampingan lanjutan ini diharapkan mampu memastikan bahwa seluruh rancangan program benar-benar dapat diterapkan dan memberikan dampak positif terhadap perkembangan peserta didik Autism Spectrum Disorder.
Antusiasme guru selama mengikuti rangkaian kegiatan menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap program pengembangan kompetensi yang berorientasi pada praktik nyata. Para peserta berharap kemitraan antara Program Studi PLB FIP UNY dengan MKKS SLB Provinsi Nusa Tenggara Barat dapat terus berlanjut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berkesinambungan. Mereka berharap memperoleh pembaruan ilmu, pendampingan profesional, serta inovasi pembelajaran berbasis hasil riset yang relevan dengan tantangan pendidikan khusus saat ini.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berbasis hasil riset ini, Program Studi Pendidikan Luar Biasa FIP UNY kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi sekolah, guru, dan terutama peserta didik Autism Spectrum Disorder. Kemitraan yang terbangun antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sekolah diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan khusus di Indonesia.
________________________________________